Sleep Apnea adalah ganguan tidur akibat penyempitan saluran nafas secara periodik ketika tidur. Gangguan ini ditandai dengan mendengkur dan kantuk berlebihan atau Excessive Daytime Sleepiness (EDS).
Dua gejala utama tersebut sering luput dari perhatian karena mendengkur telanjur dianggap sebagai hal wajar. Padahal penyempitan saluran nafas secara periodik ketika tidur, membuat sensor pembaca kadar CO2 (karbondioksida) dalam darah terus aktif. Dengan demikian orang yang mengalami sleep apnea sebenarnya tidak pernah mendapatkan kualitas tidur yang sempurna.
“Penyempitan saluran nafas tersebut membuat kadar oksigen dalam darah berkurang dan karbondioksida menjadi lebih tinggi. Ini menyebabkan otak akan terbangun karena mendapat sinyal dari kemoreseptor bahwa tubuh kekurangan oksigen. Hal yang terjadi selanjutnya adalah penderita akan mengeluarkan suara seperti tersedak atau choking, dan setelah itu akan kembali mendengkur,” kata Sleep Technologist dari RS. Mitra Kemayoran Jakarta, Dr. Andreas A. Prasadja kepada Jurnal Nasional.
Andreas mengatakan, selama penderita mengalami choking atau gasping sebenarnya mereka sedang terbangun. Pasalnya, sinyal yang dikirimkan kemoresptor mengaktifkan otak atau micro arousal untuk bernafas. “Namun ketika itu penderita tidak sampai terjaga sehingga mereka tidak sadar kalau sebenarnya mereka terjaga sepanjang malam. Karena gasping terjadi secara periodik sepanjang malam dan inilah yang kemudian membuat mereka selalu merasa mengantuk.”
Apa dampak dari terjadinya micro arousal? Menurut dokter yang mempelajari seluk beluk tidur di Universitas Sidney, Australia, ini, aktivasi kemoreseptor yang berlebih dapat membuat sensor menjadi aus atau tidak sensitif. Pengidap sleep apnea bisa mengalami sesak nafas yang parah ketika mereka tidur. “Selain sesak nafas, sistem saraf simpatis mereka juga akan terus teraktifkan sehingga membuat denyut nadi naik, tekanan darah naik, dan mengganggu metabolisme tubuh.”
Nadi dan tekanan darah yang naik selain membuat jantung bekerja lebih keras, juga membuat darah lebih cepat mengental. Inilah yang kemudian memicu terjadinya hipertensi atau gangguan jantung karena fluktuasi oksigen dalam darah membuat pembuluh darah tidak lentur. Sedangkan gangguan metabolisme tubuh juga akan memicu terjadinya diabetes.
“Itulah mengapa di negara maju, mereka yang terdeteksi hipertensi atau diabetes akan menjalani check sleep menggunakan polysomnography yang merupakan standar pemeriksaan di laboratorium untuk mendiagnosis berbagai gangguan tidur. Di Indonesia, langkah ini sudah mulai dilakukan semenjak setahun lalu,” ujarnya.
Lalu apa yang dapat dilakukan terhadap penderita sleep apnea? Andreas menjelaskan, berdasarkan check sleep akan ditentukan apakan penderita hanya mengalami mendengkur biasa atau masuk pada sleep apnea ringan, sedang, atau berat. Untuk yang didiagnosis sleep apnea akan mendapat perawatan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) yang memberikan udara bertekanan.
“Dengan pemberian udara bertekanan maka sumbatan pada organ pernapasan atas, apakah itu hidung, langit-langit mulut, tenggorokan, atau amandel, dapat terbuka sehingga periode henti nafasnya bisa dihentikan. Dan bagi penderita, ini berarti akan mendapat kualitas tidur yang sempurna,” tegas Andreas.
Ibarat menggunakan kaca mata pertama kali, menurut Andreas, CPAP hanya akan sedikit mengganggu pada penggunaan awal karena penggunaan masker ditambah dengan sebuah mesin sebagai suplier udara. “Tapi umumnya hanya butuh waktu tiga hari untuk bisa terbiasa dengan alatnya, karena setelah itu mereka akan merasakan manfaat yang besar. Mereka bangun tidur dalam keadaan yang selalu segar. Dan untuk yang mengalami hipertensi atau diabetes akibat sleep apnea, metabolisme tubuhnya jadi lebih baik sehingga lebih terkontrol.”
Alat CPAP masih terbilang mahal yakni sekitar Rp 20 juta ditambah dengan sleep test Rp 3 Juta. “Untuk sleep test sudah lebih murah dilakukan di RS. Mitra Kemayoran karena di Singapura bisa sampai dua kali lipat. Dan untuk mereka yang menderita claustrophobia atau takut ruangan gelap dan sempit, akan sedikit kesulitan menggunakan alat ini”.
One Comment
Terima kasih sudah memuat tulisan-tulisan tentang kesehatan tidur di sini.
Semoga maju terus…!